Awal mula hubungan incest ku dengan anakku adalah pada pertengahan tahun lalu. suamiku meninggal beberapa tahun yang lalu, jadi hanya aku dan iwan sekarang.
Aku tidak benar-benar menangkapnya beronani, tapi sementara membereskan kamarnya suatu pagi aku menemukan sebuah handuk kecil yang jelas-jelas digunakan baru-baru ini, karena benar-benar basah dengan sesuatu yan kental.
sejujurnya aku tidak pernah secara terbuka menyadari kebutuhan seksualku sebelum itu (duh!?), Tapi saat itu tiba-yiba aku tersadar akan kebutuhanku itu
Kemudian pada ketika ia pulang rumah, aku pilih waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini dengan dia, dan berusaha untuk meyakinkan kepadanya bahwa hal tidak apa-apa dan normal, dan aku mengerti, dan dia boleh melakukannya tanpa khawatir aku akan memarahinya. aku bilang padanya bahwa aku akan membantunya jika ia memang butuh bantuan, sama seperti aku akan membantunya dalam hal lain dalam hidup, aku tak tau kenapa akhirnya aku berkata seperti itu.
Aku tidak terlalu memikirkan percakapan kami itu, sampai beberapa hari kemudian, ia mendekati ku, tampak sedikit bingung, dan bertanya apakah aku serius dengan apa yang aku katakan waktu itu. Aku benar-benar terkejut, dan dengan gugup berkata ya aku serius, dan menyuruhnya pergi ke kamarnya.
saat menuju kamarnya di lantai atas, aku berhenti di kamar mandi untuk menyisir rambut saya dan mencuci tangan. Ketika saya masuk ke kamarnya, ia berbaring di tempat tidur dengan selimut menutupi bagian bawah tubuhnya, dan tidak mengenakan apa-apa lagi setauku. Tapi aku jelas bisa melihat bahwa kain itu menyembul seperti tenda bagian selangkangannya!
Aku duduk di pinggir tempat tidur di sampingnya.
"Bu", dia tergagap, "Mau ngga ibu nolong iwan? Tolong, iwan bener-bener membuthkannya! "
Dengan sedikit kebingungan, aku letakkan tanganku di atas selimutnya, lalu aku meremas bagian yang menonjol di selangkangannya itu, dan berusaha untuk memecahkan kebekuan, dengan bercanda aku mengatakan, "Ya, kayaknya iwan bener-bener butuh pertolongan"
Kemudian aku menarik selimutnya nya turun, dan akupun melihatnya telanjang!
Pemandangan yang menakjubkan! Ia memiliki badan atletis bagus ramping, dan aku tidak kuasa menahan untuk yidak menatap penisnya.
Ya ampun, Keras sekali! penisnya mencuat lurus ke atas!
Pikiranku bingung, tanganku gemetar, saat aku memegang penisnya.
Aku sudah tidak melihat, apalagi menyentuh, penis seorang pria untuk waktu lama. Penisnya sangat hangat dan sangat keras, dan aku dengan lembut menggenggam jari-jariku di sekitarnya.
Perlahan aku mulai membelainya ke atas dan ke bawah, menikmati bentuk dari penisnya, urat-urat di sekitar penisnya tampak jelas sekali, kepala penisnya terlihat membengkak.
"enak banget bu...!", Dia mengerang.
Rasanya seperti mimpi, aku menjadi seperti orang lain di sana, ketika aku terus mengocok penisnya dengan penuh kasih. "Tenang, Sayang", aku mendorong dia "Nikmati aja ya"
Sulit untuk menggambarkan apa yang ada di pikiranku ketika tanganku pengocok penisnya.Hanya itu yang bisa saya lakukan untuk menjaga tanganku tidak berada di selangkanganku sendiri! Oh, aku ingin menaikinya, dan merasakan penis kerasnya di dalam tubuh saya, dan dengan vaginaku yang basah meremasnya, dan menaikinya naik ke atas dan ke bawah, atas dan ke bawah ....
Tiba-tiba suaranya membawa aku kembali ke realita. "Oh, ibu, aku akan ... ibuugh..., Yesss!"
Aku mencengkeramnya sedikit lebih kuat, dan mempompa sedikit lebih cepat, menatap wajahnya yang mensiratkan dia akan melepaskan sesuatu"ngga apa-apa, Sayang", kata ku, "keluarkan saja semuanya!"
"Aaahhh!", Dia mengerang. Mataku terpaku pada penisnya yang ereksi ketika semburan sperma keluar dari penisnya! "Aarghh, ibu .. !! "
Semburan demi semburan keluar keluar saat ia berejakulasi.Dada dan perutnya menjadi basah dengan air mani nya.lalu cipratan panas mendarat tepat di tanganku! Oh, Tuhan, aku belum pernah melihat yang seperti itu!
Aku tidak bisa menahan diri. "Oh, iwan, lihat kamu menyemprotkan semuanya, Sayang! "
"Ohh ... Ohh ... Ohh!!", Ia mendengus, berulang-ulang.
Aku terus memompanya penuh semangat, seperti sedang berusaha memerahnya. Perlahan-lahan semburannya mereda, dan aku memperlambat gerakanku pada penisnya yang masih keras.
"Oh, ibu, oh yang tadi enak sekalo!" Kepalanya sekarang berpaling ke samping, matanya sayu dan setengah tertutup, sepertinya orgasmenya sudah usai. Jari-jariku terus memijatnya lama setelah aliran penuh nafsu itu telah berhenti.
"Ibu harap kamu benar-benar menikmatinya wan ", kataku lembut. "Ini hanya antara kita ya, dan ibu akan ada untuk kamu kalo kamu butuh ibu, oke?"
Semuanya berakhir sangat cepat saya berpikir, tapi otak saya bingung, ketika melihat semburan spermanya semuanya terasa di slow motion. Seluruh tubuhku gemetar dan gugup, dan pikiran saya dipenuhi dengan pikiran-pikiran aneh, berbahaya dan indah. Apa yang telah saya lakukan? Memberikan layanan seksual kepada anakku sendiri!
Aku akhirnya menarik tanganku darinya. "kayaknya ibu mau ambil handul dulu nih".
Akupun tertawa malu-malu.
Jadi itulah cerita ku sejauh ini.
...............
hubungan seksual ku dengan anak ku iwan telah menjadi rutin selama beberapa bulan terakhir. Ini persis apa yang saya harapkan akan terjadi, dan mempertimbangkan semua hal yang bisa saja menjadi tidak menyenangkan, situasi yang ada sekarang sangat menggembirakan buat ku.
Kami melakukan hubungan seks rata-rata sekali sehari. Seringnya kita lakukan di pagi hari, dan pagi ini juga kita melakukannya, kadang-kadang kita melakukannya dengan cepat. Aku tidak keberatan sedikit pun. Bahkan bagiku, itu sangat memuaskan melihat dia begitu bernafsu denganku, dan aku mampu untuk memnuhi kebutuhannya. Bagiku dia sangat menawan, suatu saat dia mengetuk pintu kamar ku lalu menunggu sampai aku memperbolehkan dia masuk, lalu ia pun berjalan masuk ke kamar ku. Aku bergairah sekali disaat melihat apa yang menonjol di celananya. Iwan adalah remaja kurus dan tinggi, sekarang tingginya lebih 180cm mungkin sekitar 185, dan penisnya terlihat sangat kekar dan keras, panjangnya mungkin sekitar 18cm (persisnya aku tak tahu aku tak pernah mengukurnya soalnya), lebih besar dari punya ayahnya dulu.
Lalu kubuka celana dalamku dan menekuk lututku, dia pun lalu berjalan kearahku, lalu akupun berusaha menwarkan kenyamanan sebagai orangtua, lalu kurasakan penisnya telah meluncur masuk di vaginaku, aku malu untuk menatap matanya untuk sesaat, dan aku pun menempelkan keningku di pipinya, dia pun menggerakkan pinggul untuk beradu dengan pinggulku. Vaginaku pun meremas kemaluannya sambil ke gerakan pinggulku ke pinggulnya. Pada pagi hari seperti ini, aku tahu kebutuhannya untuk dipenuhi yang paling utama, dan aku pun rela untuk memenuhinya. Adalah suatu kebahagiaan yang tak ternilai bisa membahagiakan anakku.
Aku tidak menghitung sudah berapa lama kita melakukakannya, tapi aku yakin nahwa dia sebentar lagi akan mencapai puncaknya. Akupun mendekap pantatnya lebih erat dan mengencangkan remasan vaginaku atas penisnya. . 'Oh ya sayang, terus sayang, keluarin semuanya didalam. Aku mencintaimu. "
Berulang kali ia menyemprotkan air mani ke dalam rahimku. Sebenarnya hanya terjadi beberapa detik tapi rasanya terjadi lama sekali. Dan saya rasa saya tidak akan pernah bosan menyadari bahwa dengan bernafsu anakku sendiri sekarang menumpahkan benihnya ke tempat dimana ayahnya dulu menumpahkannya. Tempat dimana dulu ia dibentuk, dan portal dimana melalui ia mulai memasuki dunia.
Kita mulai perjalanan seksual kita dengan tindakan sederhana dari masturbasi. Dan aku masih memasturbasinya di kesempatan lain hari ini. Ia lebih kuat dari mantan suamiku dulu. Walaupun ia telah menumpahkan banyak benisnya di rahimku, penisnya masih tetap keras, hal ini benar-benar keuntungan bagiku. Aku bisa merasakan jantung berdebar-debar, dan mendengar deru napasnya. Ini adalah saat dimana aku kadang-kadang bisa mendorong keluar orgasme saya sendiri, tapi tidak pagi ini, dan itu tak apa-apa bagiku.
Akhirnya, ia memberikan ciuman di pipi, mencabut penisnya lalu menuju ke kamar mandi. Aku pun cepat-cepat memakai celana dalamku kembali, hanya untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Terbaring di sana, jari ku mengembara ke payudaraku, membelai perut ku, dan memasukkan ke dalam untuk vagina ku. Aku bisa merasakan air mani hangat dan kental dalam vaginaku, kemudian dan menggosok-gosok klitorisku dengan lembut. Aku memejamkan mata, ketika jari-jari ku masuk ke dalam vagina ku. Mmmmmm ... Kepalaku seras terbenam dibantalku. Oh Yesss ... ini dia ... yesssss ...ohhhhhhhhhhhhhhh ... oh tuhan saya ...mmmmmmmmmmm .....
saya Oh ... ! Pikiranku masih membekas saat-saat anakku menyetubuhiku tadi, tubuhku lemas saat ku disergapi orgasmeku. Lalu akupun dan menarik selimut kembali. Nikmati waktu, singkat dan tenang untuk diriku, saat aku mendengar iwan masih mempersiapkan dirinya untuk sekolah hari itu.
Tamat



0 komentar:
Post a Comment